Jumat, 23 Maret 2012

KONSEP DASAR KESEHATAN JIWA


A.   PENDAHULUAN

Kehidupan manusia dewasa ini semakin sulit dan komplek. Kondisi tersebut diperparah dengan bertambahnya stressor psikososial akibat budaya masyarakat modern yang cenderung sekuler. Hal tersebut menyebabkan manusia tidak dapat menghindari tekanan-tekanan hidup yang dialami. Kondisi kritis ini membawa dampak terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas penyakit mental-emosional manusia

Kondisi diatas dapat menimbulkan gangguan jiwa dalam tingkat ringan amaupun berat yang memerlukan penanganan di rumah sakit, baik itu di rumahs akit jiwa atau di unit pelayanan keperawatan jiwa di rumah sakit umum dan unit pelayanan lainnya.

Pelayanan di rumah sakit tidak mungkin dapat berjalan dengan baik tanpa adanya pelayanan keperawatan. Pelayanan Keperawatan sangat diperlukan karena merupakan bagian integral dari proses penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Untuk merawat klien/pasien dengan baik seorang perawat harus mengetahui konsep dasar keperawatan dan juga harus memahami serta mengaplikasikan proses keperawatan.

B.   KONSEP DASAR KESEHATAN DAN KEPERAWATAN JIWA
1.   Pengertian Sehat 
a.    Menurut WHO (Notosoedirjo,2005):
“Keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun social, tidak hanya terbebas dari penyakit/cacat”
Pengertian sehat menurut WHO tersebut merupakan kondisi ideal dari sisi biologis, psikologis dan social. Apakah ada seseorang yang berada dalam kondisi sempurna secara biopsikososial?  Memang sulit untuk mendapatkan seseorang yang berada dalam kondisi kesehatan yang sempurna, namun yang mendekati pada kondisi ideal dapat didapatkan.

b.    UU. No 23, 1992 tentang kesehatan
Sehat: keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yg memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis

Sehubungan dengan pentingnya dimensi agama dalam kesehatan, maka pada tahun 1984, WHO menambahkan dimensi agama sebagai salah satu pilar kesehatan. Sehingga menjadi 4 pilar kesehatan yaitu: 1)  sehat sevara jasmani/fisik (biologis); 2) sehat secara kejiwaan (psikologis/psikiatric); 3) sehat secara social dan 4) sehat secara spiritual (agama). Yang digambarkan dalam sebuah skema (Hawari, 1992)


                Agama/                                                           Organo-
                Spiritual                                                           biologic


                                                 ANAK
                                              (MANUSIA)
                                   

            Psiko-                                                               Sosial-
            edukatif                                                           Budaya

                                    Skema 4 Dimensi Sehat
                                            (Hawari, 1993)

















Dari skema tersebut dapat dijelaskan bahwa manusia, hidup dalam 4 dimensi:
a.   Agama/spiritual
Fitrah manusia, kebutuhan dasar manusia yang mengandung nilai-nilai moral, etika dan hukum. Seorang yang taat pada hukum, berarti ia bermoral dan beretika, seorang yang bermoral dan beretika berarti ia beragama.
b.   Organo-Biologik
Fisik/tubuh/jasmani, termasuk perkembangan susunan saraf pusat (otak), yang perkembangannya memerlukan makanan yang bergizi, bebas dari penyakit yang kejadiannya sejak dari pembuahan, bayi dalam kandungan, kemudian lahir sebagai bayi dan seterusnya melalui tahapan anak (balita), remaja, dewasa dan usia lanjut.
c.    Psiko-edukatif
Pendidikan yang diberikan prangtua termasuk pendidikan agama. Orangtua merupakan tokoh imitasi dan identifikasi anak terhadap orangtuanya> Perkembangan kepribadian anak melalui dimensi psiko-edukatif ini berhenti pada usia 18 tahun

d.   Sosial-Budaya
Kepribadian manusia juga dipengaruhi oleh kultur budaya dari lingkungan social, dimana manusia dibesarkan

2.     Pengertian Kesehatan Jiwa
Menurut UU No.. 3, 1966:
“Kesehatan Jiwa adalah suatu kondisi yg memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yg optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan orang lain”
Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat-sifat yang harmonis (serasi)  dan memperhatikan semua segi-segi dalam kehidupan manusia dan dalam hubungannya dengan orang lain (social)

Kesehatan jiwa : Kemampuan menyesuaikan diri dg diri sendiri, orang lain, masyarakat dan lingkungan. Terwujudnya keharmonisan fungsi jiwa dan sanggup menghadapi problema yang biasa terjadi dan merasa bahagia dan mampu diri

Gangguan Jiwa: Sindroma atau pola perilaku atau psikologik seseorang yg secara klinis cukup bermakna dan scr khas berkaitan dg suatu gejala “penderitaan” (distress) dan atau hendaya (impairment/disability) di dalam satu atau lebih fungsi manusia


3.   Ciri Sehat Jiwa

a.   Ciri Sehat Jiwa Menurut WHO (Hawari, 2002)
1)     Dapat menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan, meskipun kenyataan itu buruk baginya
2)     Memeperoleh kepuasan dari hasil jerih payah usahanya
3)     Merasa lebih puas memberi daripada menerima
4)     Secara relative bebas dari rasa tegang (stress)
5)     Berhubungan dengan orang lain secara tolong menolong dan saling memuaskan
6)     Menerima kekecewaan untuk dipakainya sebagai pelajaran di kemudian hari
7)     Mengarahkan rasa permusuhan pada penyelesaian yang kreatif dan konstruktif
8)     Mempunyai rasa kasih sayang yang besar

Bila dicermati secara seksama masing-masing butir kriteria sehat tersebut diatas bernuansa pesan-pesan moral etik-religius.


b.   Ciri Sehat Jiwa Menurut Maslow-Mittlemenn (Notosoedirdjo, 2005):
1)     Rasa aman yang memadai
perasaan aman dalam hubungannya dengan pekerjaan, social dan keluarganya
2)     Kemampuan menilai diri sendiri yang memadai
yang mencakup:1) harga diri yang memadai, ada nilai yang sebanding pada diri sendiri dan prestasinya; 2) memiliki perasaan yang berguna;
3)     Memiliki spontanitas dan perasaan yang memadai dengan orang lain
seperti hubungan persahabatan, cinta, berekspresi yang cukup pada ketidaksukaan tanpa kehilangan control, kemampuan memahami dan membagi rasa kepada orang lain, kemampuan menyenangi diri sendiri dan tertawa
4)     Mempunyai kontak yang efisien dengan realitas
sedikitnya mencakup 3 aspek: fisik, social dan diri sendiri/internal. Ditandai dengan: 1) tiadanya fantasi yang belebihan; b) mempunyai pandangan yang realistis dan pandangan yang luas: 3) kemampuan untuk berubah jika situasi eksternal tidak dapat dimodifikasi
5)     Keinginan-keinginan jasmani yang memadai dan kemampuan untuk memuaskannya
ditandai dengan: 1) sikap yang sehat terhadap fungsi jasmani: 2) kemampuan meperoleh kenikmatan kebahagiaan dari dunia fisik dalam kehidupan: 3) kehidupan seksual yang wajar: 4) kemampuan bekerja: 5) tidak adanya kebutuhan yang berlebihan.
6)     Mempunyai pengetahuan yang wajar
termasuk didalamnya: 1) cukup mengetahui tentang: motif, keinginan, tujuan, ambisi, hambatan, kompensasi, perasaan rendah diri: 2) penilaian yang realistis terhadap milik dan kekuarangan;
7)     Kepribadian yang utuh dan konsisten
maknanya: 1) cukup baik perkembangannya, kepandaiannya, berminat dalam berbagai aktifitas; 2) memiliki prinsip moral dan kata hati yang tidak berbeda dengan pandangan kelompok;3) mampu berkonsentrasi: 4) tidak ada konflik besar dalam kepribadiannya
8)     Memiliki tujuan hidup yang wajar
Hal ini berarti: 1) memiliki tujuan yang sesuai dan dapat dicapai; 2) mempunyai usaha yang cukup dan tekun mencapai tujuan; 3) tujuan bersifat baik untuk diri sendiri dan masyarakat.


9)     Kemampuan untuk belajar dari pengalaman
Tidak hanya mengumpulkan pengetahuan dan kemahiran ketrampilan, tetapi juga kemauan menerima hal baru yang baik
10) Kemampuan memuaskan tuntutan kelompik
Individu harus: 1) tidak terlalu menyerupai anggota kelompok yang lain; 2) terinformasi secara memadai, menerima cara yang berlaku dikelompoknya; 3) kemauan dan dapat menghambat dorongan dan hasrat yang dilarang kelompoknya.
11. Mempunyai emansipasi yang memadai dari kelompok atau budaya
    Hal ini mencakup: 1) kemampuan menganggap sesuatu itu baik dan yang lain jelek; 2) dalam beberapa hal tergantung dari pandangan kelompok; 3) menghargai perbedaan budaya

c.   Ciri Sehat menurut JAHODA:
1)         Sikap positif terhadap diri:
a)   Menerima diri
b)   Sadar diri
c)   Obyektif
d)   Merasa berarti
2)         Tumbuh kembang dan aktualisasi
a)   Berfungsi optimal
b)   Adaptif
3)         Integrasi ;
a)   Ekspresi dan represi
b)   Ego yang kuat (stres dan koping)
c)   Luar dan dalam (konflik dan dorongan)
4)         Otonomi
a)   Tergantung dan mandiri seimbang
b)   Tanggungjawab terhadap diri sendiri
c)   Menghargai otonomi orang lain
5)         Persepsi realitas
a)   Mau berubah sesuai pengetahuan baru
b)   Empati dan menghargai sikap dan perasaan orang lain
6)         Environmental mastery (menguasai lingkungan)
a)   Sukses
b)   Adaptif terhadap lingkungan
c)   Dapat mengatasi : kesepian, agresif, frustasi

4.   Upaya Kesehatan Jiwa (Dir. Bina Pelayanan Keperawatan Depkes RI)

1.   Ditujukan untuk menjamin setiap orang dapat menikmati kehidupan kejiwaan yang sehat, bebas dari ketakutan, tekanan dan gangguan lain yang dapat mengganggu kesehatan jiwa
2.   Terdiri atas peningkatan, pencegahan, pengobatan dan pemulihan pasien gangguan jiwa dan masalah psikososial
3.   Menjadi tanggungjawab bersama pemerintah dan masyarakat
4.   Pemerintah dan masyarakat bertanggungjawab menciptakan kondisi kesehatan jiwa yang optimal dan menjamin ketersediaan, aksesibilitas, mutu dan pemerataan upaya kesehatan jiwa
5.   Pemerintah berkewajiban untuk mengembangkan upaya kesehatan jiwa keseluruhan, termasuk akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.

5.   Keperawatan Jiwa

Keperawatan sebagai bentuk pelayanan professional merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Hal ini ditekankan dalam Undang-Undang RI No.23 tahun 1992 tentang kesehatan yang dilakukan dengan pengobatan dan atau perawatan.
Pelayanan keperawatan yang diberikan adalah upaya mencapai derajad kesehatan semaksimal mungkin sesuai dengan potensi yang dimiliki dalam menjalankan kegiatan dalam bidang promotif, prefentif, kuratif dan rehabilitative dengan menggunakan proses keperawatan.

Penerapan asuhan keperawatan di rumah sakit jiwa memang sedikit berbeda dengan RSU. Perbedaan tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan karakteristik penderita yang dilayani yaitu pasien di RSJ merupakan orang yang sedang mengalami gangguan jiwa. Proses pengobatan gangguan jiwa memerlukan waktu yang lama, disamping itu asuhan keperawatan yang dilakukan sangat menetukan keberhasilan pengobatan (Keliat, 1998)

Hasil evaluasi terhadap dokumentasi di 2 RSJ yang besar, ditemukan kurang dari 40% pelaksanaan asuhan keperawatan belum memenuhi kriteria sesuai standar asuhan yang baik. Kondisi ini tentunya tidak boleh memupuskan motivasi dalam merawat pasien dengan gangguan jiwa (Keliat, 1998).

Motivasi untuk merawat klien dengan masalah kesehatan jiwa adalah:
1.   Gangguan jiwa tidak merusak seluruh kepribadian dan perilaku manusia
2.   Perilaku manusia selalu dapat diarahkan pada respon yang baru
3.   Perilaku manusia selalu dipengaruhi faktor yang menimbulkan tekanan sosial, dikuatkan atau dilemahkan

6.   Peran Perawat dalam Kesehatan Jiwa

1.   Mekanisme utama yang mendorong sistem social (Parson, 1951, dalam The Bride to Profesional Nursing Practice, Cresia, 2001)
2.   Set perilaku unik menggambarkan posisi yang merefleksikan domain personal, social ayau okupasi
3.   Pola perilaku tersebut dimanifestasikan ke dalam penampilan melaksanakan tugas dan kewajiban
4.   Pembentukan peran perawat dipengaruhi oleh karakteristik organisasi, individu perawat dan interaksi perawat dengan yang terlibat dalam set peran tersebut
5.   Peran professional unik karena dipengaruhi oleh kode etik yang membantu memperlihatkan secara tajam perilaku professional dan sebagai kerangka dari harapan peran tersebut.

Semua peran perawat tersebut dapat dilaksanakan dalam memberikan pelayanan keperawatan jiwa, baik pada institusi sarana kesehatan RS, Puskesmas maupun praktik mandiri/swasta. Untuk melaksanakan perasn tersebut dipersiapkan perawat yang memiliki kompetensi dan kewenangan untuk melaksanakannya (registrasi, sertifikasi dan lisensi).

C.   Pemeliharaan Kesehatan Jiwa Diri Sendiri

1.   Solitude (nyepi)
ü  Perlu waktu utk diri sendiri utk memahami apa yang terjadi waktu bersama orang lain
ü  Bukan fisikal, sama dengan “time out”
ü  Menghindari dituntut dan menuntut orang lain

2.   Kesehatan diri sendiri (Personal Physical Health)
ü  Makanan yang sehat
ü  Istirahat yang cukup
ü  Olahraga



3.   Solitude (nyepi)
ü  Perlu waktu utk diri sendiri utk memahami apa yang terjadi waktu bersama orang lain
ü  Bukan fisikal, sama dengan “time out”
ü  Menghindari dituntut dan menuntut orang lain

4.   Kesehatan diri sendiri (Personal Physical Health)
ü  Makanan yang sehat
ü  Istirahat yang cukup
ü  Olahraga

5.   Merawat dengan memperhatikan tanda-tanda stres internal (ettending to internal stress signals)
ü  Setiap orang pernah marah, karena hal yang kecil
ü  Penting bagi perawat untuk mengenal dan berespon pada tanda-tanda stresnya


BUKU SUMBER:

Hawari, 2002. Dimensi Religi dalam Praktek Psikiatri dan Psikologi, FKUI Jakarta
Notosoedirdjo, M, 2005. Kesehatan Mental, Konsep dan Penerapan. UMM Press,
          Malang
Yosep, 2011. Keperawatan Jiwa. Refika Aditama, Bandung

ditambah dengan:
Materi Konas Keperawatan Kesehatan Jiwa IV, Bandu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar